Jogja "yang katanya" Istimewa

Berawal dari perjalanan selama 6 jam dari sidoarjo ke jogja, tepatnya gunung kidul. Pantai di subuh hari dengen langit kelabu dan mendung yang mengandung banyak beban sebelum dicurahkan dalam hujan.

Mengantuk. Itu yang aku rasakan.
Selain itu, aku lelah untuk tersenyum dan terlalu lelah untuk berbicara atau mengobrol dengan orang lain. Rasanya aku merasa tidak cocok dengan semua orang di dalam rombongan.

Saat semua sibuk ke toilet, aku menaiki bukit untuk mencari ruang ku sendiri. Aku hannya ingin tenang yang hening.

Akhirnya langit tak kuasa membendung hujannya. Hannya rintik bukan badai. Cukup menyegarkan dan tepat untuk ku yang tidak menyukai terik menyengat.

Melihat betapa orang-orang yang lain bisa menikmati momen bersama. Aku hannya merasa kosong. Bukan kesepian, hannya tidak tau rongga mana yang kosong sehingga tidak tau apa yang harus ku lakukan.

Makan dan tidur. Aktifitas yang cukup membuatku kembali sadar, aku hannya manusia seperti pada umumnya. Aku tidak aneh.

Sampai di titik, sepertinya aku memang tidak bisa melakukan apa-apa hang aku ga suka.
Seperti itik yang berjalan di rombongan angsa.

Aku butuh untuk sendiri.
Lalu, ku kira jogja seperti yang dikatakan orang-orang. Istimewa. Ternyata tidak juga.
Persepsi tentang suatu wilayah, bukan hannya berdasar pada wilayah tersebut, tapi juga persepsi tiap individu yg punya selera dan rasa yang berbeda.

Aku dengan masalah ku dan jogja yang tak memahami ku.

Lalu sampailah aku duduk menulis catatan absurd ini. Di coffe and book store. Cukup jauh dari hotel. Tapi setidaknya disini tidak ada yang mengenaliku. Tidak ada yg berekspektasi aku harus berprilaku seperti apa. Tidak ada yg membebaniku.

Membaca beberapa buku yang cukup menarik saat pertama ku lihat sampulnya. Meskipun tidak mungkin ku baca sampai habis.

Jogja mulai menenangkan ku dengan caranya yang berbeda.


Komentar